Hi, Namaku Rumaisha

Hi Namaku Rumaisha
Hi Namaku Rumaisha

 

“Assalamu’alaikum. Hello World!. Perkenalkan aku Rumaisha, nama lengkapku Rumaisha Syafira”. Kata Ayah dan Ibu arti namaku adalah yang mendamaikan lagi istimewa. Rumaisha juga merupakan nama salah satu sahabat perempuan di masa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi Wassalam. Namaku adalah do’a dan harapan mereka untukku.

Tepat 4 bulan yang lalu, hari Senin, 16 Maret 2020 sebelum adzan maghrib berkumandang aku dilahirkan dengan berat 2,9 kg dan Panjang 45 cm di salah satu rumah sakit di kota Wonogiri, kota kecil yang terletak di sebelah tenggara Provinsi Jawa Tengah.

Ketika aku lahir, wabah Corona mulai merebak di Indonesia. Beruntungnya Ayahku sudah pulang 2 hari sebelum aku lahir, dan mulai hari itu juga hampir diseluruh rumah sakit meniadakan jam besuk dan pasien hanya boleh ditemani oleh 2 orang dari pihak keluarga. Praktis hanya Ayah dan mbah uty yang menemani Ibu, sekaligus yang mengurus semua keperluan di rumah sakit.

Proses persalinanku pun cukup panjang, dimulai dari hari Sabtu, 2 hari sebelum aku lahir dan bertepatan juga dengan Ayahku pulang dari Bekasi, Ibu pergi ke Klinik Bunafsi untuk kontrol dan konsultasi rutin dengan Bidan. Rencananya Ibu memang akan melahirkan di klinik ini. Meskipun lokasi cukup jauh sekitar 30 km dari rumah tapi dari beberapa review, klinik Bu Nafsi adalah salah satu klinik khusus persalinan yang cukup bagus di Wonogiri.

Tapi Bidan yang biasanya tidak masuk diganti dengan Bidan lain, dikarenakan pada hari itu tepat usiaku di kandungan sudah 40 minggu, Bidan menyarankan untuk konsultasi ke Dokter spesialis Kandungan di Rumah Sakit, meskipun dari hasil USG air ketuban dan ari-ari masih bagus/aman. Orang tuaku jadi agak khawatir, karena dari konsultasi dengan Bidang bisanya HPL merupakan perkiraan saja, mundur atau maju beberapa hari tidak masalah (salama kondisi janin masih baik), perlu tindakan jika belum ada tanda-tanda kelahiran sampai lebih dari 2 minggu dari HPL.

Karena saran bidan seperti itu, rencananya hari Senin Ibu dan Ayah mau ke rumah sakit untuk konsultasi ke Dokter Spesialist kandungan. Di hari Minggunya, ketika Ayah ke Sukoharjo mau ambil kendaraan ternyata Ibu ingin ikut karena sudah kangen dengan mbah kakung dan mbah uty, wal hasil dalam keadaan yang sudah hamil besar, Ibu malah naik angkutan umum yang jaraknya kurang Lebih 50 km 🙂

Ketika di Sukoharjo, malam harinya sekitar pukul 01:00 dini hari, Ibuku merasakan kepalaku seperti kebawah (pinggang) dan keluar cairan. *aku sudah ingin keluar :). Akhirnya Ibu diantar ayah, mbah Kakung dan mbah Uty ke klinik bidan setempat di kota Sukoharjo jaraknya hanya kurang dari 10 menit perjalanan.

Setelah diperiksa perawat infonya cairan yang keluar adalah air ketuban dan harus segera di bawa ke rumah sakit, tidak boleh ke klinik, orang tuaku tambah panik.

Maka diputuskan Ibu dibawa ke RS Medika Mulya di Wonogiri, 25 km dari rumah mbah Uty Sukoharjo. Karena ada dokter spesialist yang rekomended di sana dan recananya senin paginya jg mau konsultasi ke dokter tsb.

Sesampainya di RS tersebut sekitar pukul 02:00 dini hari, setelah registarasi dan dibawah ke IGD ternyata dokternya sedang di luar kota sudah cuti beberapa hari, kemungkinan baru akan masuk hari Senin itupun jam 2 siang. Itu juga baru kemungkinan.

Karena tidak ada dokter, Ayah membawa Ibu ke klinik Bu Nafsi, klinik yang biasa untuk konsultasi karena hanya berjarak 6 km. Setelah diperiksa lagi ternyata bukan air ketuban dan belum ada pembukaan. *padahal aku sudah ingin keluar lho hehehe

Akhirnya diputuskan pulang dulu ke rumah, ayah dan ibu pulang ke rumah uty wongiri, mbah uty pulang ke rumah Sukoharjo. Jarak dari klinik ke rumah sekitar 30 km dan melewati daerah Gunung Pegat (pegat dalam bahasa jawa berarti cerai) yang jalanannya terkenal sepi, gelap dan berkelok. Selama perjalanan beberapa kali ibu merasakan kontraksi. *Maaf ya Bu Rumaisha soalnya sedang berusaha keluar ingin segera ketemu Ibu 🙂

Singkat cerita, sekitar pukul 10:00 pagi Ayah mengantar Ibu ke rumah sakit, setelah sebelumnya sempat mengantar ke Bidan desa dulu untuk konsultasi, ambil surat rujukan ke puskemas dan tentunya mendampingi Ibu karena kontraksinya sudah mulai sering.

Pagi ini aku diantar kerumah sakit lain, yaitu RS Mulia Hati Wonogiri, jaraknya 30 km dari rumah. Rata2 memang letak rumah sakit jauh berada di kota makanya jaraknya jauh dari rumah. Ayah memutuskan memilih RS lain karena pertama saran dari Bidan desa dan kedua karena RS Medika yang semalam sudah didatengi dokter spesialis kandugannya tidak ada, khawatir sampai senin siang ini jg belum masuk.

Sesampainya di RS Mulia Hati ternyata dokter spesialis kandungan juga tidak ada, sedang cuti. Sehingga ibu tidak bisa diterima di RS tersebut. Tinggal ada 2 pilihan lagi RSUD Wonogiri atau kembali mencoba RS Medika Mulya dengan asumsi Dokternya sudah masuk. Ayah dan mbah Uty memutuskan ke RS Medika dengan pertimbangan karena praktek Dokter spesialis yang diinginkan di sana dan biasanya RS swasta lebih baik pelayanannya dibanding RS milik negara.

Sekitar pukul 12 siang kami sampai di RS Medika, alhamdulillah dokternya sudah masuk meskipun baru datang antara jam 2 atau jam 4 sore, meskupun saat registrasi sempat alot dengan bag IGD karena surat rujukan dari puskemas bukan ke RS Medika tapi ke RS Mulia Hati. Jadi Ibu & Aku sempat agak lama tertahan di IGD tanpa ada tindakan.

Setelah ayahku menjelaskan keadaan Ibuku, akhirnya bagian pedaftaran membolehkan untuk masuk karena termasuk dalam katagori darurat. Dan kebetulan sekali bag. pendaftaran yang membantu ternyata satu almamater dengan Ibuku, mungkin itu jg yang membuat dia mengusahakan agar Ibu bisa masuk. Alhamdulillah

Demi melahirkanku dalam sehari Ibuku rela bolak-balik, Wonogiri-SKH-Wonongiri-Rumah-Wongiri (total sekitar 160 KM)

Pada hari itu juga, sebelum adzan maghrib aku lahir dan langsung di bawa ke ruang NICU karena aku tidak langsung menagis, kata dokter aku sempat kemasukan air ketuban. Jadi aku perlu dirawat intensif selama 5 hari di Rumah Sakit.

Yang membuatku senang adalah ayah bisa menemani aku sampai usiaku 3 bulan lebih 2 minggu. Cerita dari ayahku karena ada pandemi Corona atasannya memberi kelonggaran untuk kerja dirumah.

Senangnya Aku, saat aku bisa mendengar pertama kali aku bisa mendengar suara ayah, saat aku bisa melihatpun aku bisa melihat wajah ayah dan aku juga bisa menunjukkan senyum pertamaku ke Ayah. Ketika ayah mau kembali ke Bekasi aku sudah bisa tunjukkan kalo aku sudah bisa tengkurap walupun masih susah dan belum bisa mengangkat kepala ketika sudah berhasil tengkurap.

Saat ayah pulang besok, aku mau tunjukkan bahwa aku sudah bisa tengkurap dengan lancar.

Foto diatas adalah foto sehari sebelum ayah barangkat ke Bekasi, lhoh kok muka ayah ditutup?! Iya ayahku kadang gitu, malu mungkin 😛

Terima kasih Ibu, Ayah, Mbah Uty, Mbah Kakung, Team Excellent dan Seluruh Keluarga & saudara, sudah mendukungku lahir di dunia ini 🙂

Bekasi, 16 Juli 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *