Obrolan Singkat di Perjalanan

Kebetulan hari Kemerdekaan Indonesia tahun ini bertepatan di hari Jum’at artinya akhir pekan ini adalah longweekend, akhir pekan yang menggembirakan bagi pekerja kantoran pada umumnya terutama untuk PJKA seperti saya, punya waktu bisa pulang sedikit agak lama :). 

Seperti biasa agar bisa mengejar jadwal Bus, saya izin pulang lebih awal ke atasan, Jadwal Bus jam 15.00 saya izin sekitar jam 15.30 baru berangkat dari kantor. Maklum longweekend kemungkinan besar bus datang terlambat ditambah kondisi jalanan di Jakarta yang sedang ada banyak pembagunan kedatangan Bus jadi susah diperkirakan datang jam berapa, jadi daripada nunggu lama2 di agen mending datangnya molor juga.

Dan benar Bus terlambat tiba di agen, baru tiba sekitar pukul 17.00 saya pun bergegas naik ke Bus. Samping saya duduk seseorang yang masih cukup muda, umurnya kira2 sekitar 20tahunan. Saya coba membuka obrolan dengan menanyakan akan turun di mana :

“Turun di mana dek?” tanya saya
“Boyolali pak” jawab dia
 
Mendengar tujuan dan melihat penampilannya, kemungkinan besar dia akan mendaki gunung, langsung saja saya tanya mau mendaki ke Gunung apa, karena jika turun di Boyolali ada 2 gunung di kota tersebut Merapi dan Merbabu.
 
“Owh, mau mendaki ya, Merapi atau Merbabu?” 
“Mau mendaki Gunung Merbabu pak”
 
Lanjut ngobrol seputar Mendaki dan Gunung Merbabu, ya sedikit banyak saya paham lah, pernah beberapa kali muncak ke Gunung tersebut.
 
Obrolan berlanjut 
 
“Masih kuliah?” tanya saya lagi
“Tidak pak, kontrak kerja baru habis, jadi ini bisa liburan”
 

Mendengar jawaban Kerja kontrak dari anak muda tadi saya jadi ingin lebih banyak tahu tentang pekerjaan dia sebelumnya, berkerja di pabrik mana, lokasi, lingkungan pekerjaan bahkan nilai gaji yang dia terima. Saya ingin mendengar cerita dari orang yg kerja di pabrik yg identik dengan lokasi tempat kerja luas di kawasan industri dan dengan ribuan karyawan, karena kebetulan pengalaman pekerjaan saya selama ini rata2 di vendor dengan karyawan tidak lebih dari puluhan orang dalam 1 kantor

“Lha emang dulu kerja di mana dek?”
“Di pabrik Otomotif (dia sebutkan nama perusahaannya) di daerah Pulogadung” Jawab dia
“Wah, gaji lumayan dong?” timpal saya
“Ya pak lumayan, gapok sekian (sambil menyebutkan besaran nilainya) kalo pas lemburan banyak, gaji lemburnya bisa lebih besar dari gaji pokok”
“Trus dikontrak berapa lama?”

Dia bercerita awal masuk diberi kontrak kerja selama 1 tahun kemudian diperpanjang lagi oleh perusahaan selama setengah tahun. Sambil dijanjikan (lebih tepatnya diiming-imingi) akan diperpanjang setengah tahun lagi setelah itu akan diangkat menjadi karyawan tetap. Tapi kenyataannya kontrak tidak diperpanjang apalagi diangkat menjadi karyawan tetap, walaupun sudah bekerja sebaik mungkin dan tidak pernah absen. Yang membuat agak kecewa tambah dia, ada salah satu karyawan yang diangkat karena konon punya orang dalam padahal secara skill dibawah temannya dan beberapa kali absen tidak masuk. Untuk yang point terakhir, politik di pabrik ini saya juga pernah dengar dari pengalaman yang sempat bekerja di pabrik, namun untuk kebenarannya saya juga tidak tahu pasti :).
 
Obrolan saya lanjutkan :
 
“Berarti tabungan dari hasil kerja lumayan dong?”
“Alhamdulillah pak, bisa buat renovasi rumah orang tua, soalnya sudah agak reyot rumahnya, dari pada buat belanja-belanja HP baru, motor baru dan lain2 nanti juga bosan dan kurang kelihatan hasilnya”
 
Jawaban ini yang membuat saya kagum, hasil dari kerjanya digunakan untuk merenovasi rumah orang tua, dibanding untuk belanja-belanja barang pribadi. Karena mungkin sangat jarang dari kalangan anak muda pada umumnya yang berfikir seperti itu.
 
Dia juga bercerita sebenarnya, sempat bekerja di perusahaan tempat PKL/Magangnya dulu. Jadi setelah lulus dia dikontak lagi oleh staff perusahaan tersebut setelah bekerja 2 bulan staffnya merekomendasikan ke atasan untuk dijadikan karyawan tetap karena kinerjanya dianggap lumayan memuaskan, tapi ternyata atasan lebih memilih lulusan D3 fresh graduate yang baru saja submit lamaran. Gagal karena title di selembar ijasah.
 
Dia juga mengeluhkan kalo sekarang cari kerja sulit, kalaupun diterima paling diterima sebagai karyawan kontrak apalagi hanya lulusan SMK. Nanti kalo kontrak habis mulai dari awal lagi cari pekerjaan, begitu terus sampai tidak sadar umur sudah terlanjur tua, sedikit perusahaan yang mau menerima. 
 
Obrolan berakhir, masing-masing kita tiba ditujuan. Saat ini memang teman ngobrol saya tadi belum mendapat pekerjaan lagi tapi umur dia masih muda masih banyak kesempatan dan potensi yang bisa digali.
 
Dari obrolan tadi mestinya kita jadi lebih bersyukur mungkin banyak orang yang menginginkan diposisi kita saat ini, tinggal bagaimana kita sebisa mungkin memaksimalkan potensi yang ada. 
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *